Saturday, 3 July 2021

MERAIH PAHALA DARI FITNAH HARTA DAN ANAK

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28) ,

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”, (Al-Kahfi: 46)

Terdapat dua ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebut harta dan anak sebagai fitnah, yaitu surah Al-Anfal ayat 28 dan surah At-Taghabun ayat 15, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Perbezaannya: pada surah Al-Anfal, Allah menggunakan redaksi pemberitahuan “ketahuilah”, sedangkan pada surah At-Taghabun menggunakan redaksi penegasan “sesungguhnya”. Namun ungkapan yang mengakhiri kedua ayat tersebut sama, iaitu “di sisi Allah pahala yang besar”. Sehingga dipahami bahawa fitnah harta dan anak boleh menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, namun di sisi lain justeru menjadi peluang meraih pahala yang besar dari Allah swt. Dan makna yang kedua itulah yang dikehendaki oleh Allah, sehingga Allah mengingatkannya di akhir ayat yang berbicara tentang fitnah anak dan harta “dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Fitnah dalam kedua ayat ini bukan dalam arti Bahasa Indonesia, yaitu setiap perkataan yang bermaksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik atau merugikan kehormatannya. Tetapi fitnah yang dimaksud dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah uji pada harta dan anak seseorang. Fitnah di sini juga dalam arti bisa menyibukkan atau memalingkan dan menjadi penghalang seseorang dari mengingat dan mengerjakan amal taat kepada Allah, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini dalam firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Rasulullah saw juga menyebut kedua kemungkinan ini dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah swt”.

Fitnah anak dalam arti bisa mengganggu dan menghentikan aktivitas seseorang pernah dirasakan juga oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Buraidah bahwa ketika Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbahnya kepada kami, tiba-tiba lewatlah kedua cucunya Hasan dan Husein mengenakan baju merah sambil berlari dan saling kejar mengejar. Begitu melihat kedua cucunya, Rasulullah kontan turun dari mimbar dan mengangkat keduanya seraya mengatakan, ”Maha Benar Allah dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah fitnah”. Aku tidak sabar melihat keduanya sampai aku menghentikan ceramahku dan mengangkat keduanya”. Dalam konteks ini, Ibnu Mas’ud mengajarkan satu doa yang tepat tentang harta dan anak. Beliau mengungkapkan, ”Janganlah kalian berdoa, dengan doa ini, ”Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah”. Karena setiap kalian ketika pulang ke rumah akan mendapati harta, anak dan keluarganya bisa mengandungi fitnah, tetapi katakanlah, ”ya Allah aku berlindung kepada engkau dari fitnah yang menyesatkan”.

Secara korelatif tentang fitnah harta dan anak dalam surah At-Taghabun, Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun: 16). Apalagi pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan akan kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)

Sedangkan tentang fitnah harta dan anak dalam surah Al-Anfal, Sayyid Quthb menyebutkan korelasinya dengan tema amanah ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al-Anfal: 27), bahwa harta dan anak merupakan objek ujian dan cobaan Allah swt yang dapat saja menghalang seseorang menunaikan amanah Allah dan Rasul-Nya dengan baik. Padahal kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang menuntut pengorbanan dan menuntut seseorang agar mampu menunaikan segala amanah kehidupan yang diembannya. Maka melalui ayat ini Allah swt ingin memberi peringatan kepada semua khalifah-Nya agar fitnah harta dan anak tidak melemahkannya dalam mengemban amanah kehidupan dan perjuangan agar meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan inilah titik lemah manusia di depan harta dan anak-anaknya. Sehingga peringatan Allah akan besarnya fitnah harta dan anak diiringi dengan kabar gembira akan pahala dan keutamaan yang akan diraih melalui sarana harta dan anak.

Lebih jauh, korelasi ayat di atas dapat ditemukan dalam beberapa ayat yang lain. Al-Qurthubi misalnya, menemukan korelasinya dengan surah Al-Kahfi: 46 yang bermaksud, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”, bahwa harta kekayaan dan anak wajar menjadi perhiasan dunia yang menetramkan pemiliknya karena pada harta ada keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak ada kekuatan dan dukungan. Namun demikian kedudukan keduanya sebagai perhiasan dunia hanyalah bersifat sementara dan bisa menggiurkan serta menjerumuskan. Maka sangat tepat jika ayat “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (At-Taghabun: 15) dan ayat “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.(Al-Munafiqun: 9) menjadi pengingat jika kemudian terjadi harta dan anak justru menjauhkan pemiliknya dari Allah swt.

Berbeda dengan At-Thabari, ia memahami korelasi kontradiktif ayat ini dengan surah Ali Imran ayat 38, “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Menurut Ath-Thabari, secara tekstual ayat ini bisa dipahami bertentangan dengan ayat yang memberi peringatan akan kemungkinan bahaya dan fitnah yang ditimbulkan dari harta dan anak. Padahal nabi Zakaria sendiri berdoa agar dikaruniakan keturunan yang banyak. Maka pemahaman yang cenderung kontradiktif ini diluruskan sendiri oleh Ath-Thabari dengan mengemukakan bahwa anak yang di pohon oleh Zakaria adalah anak keturunan yang shaleh yang bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat. Sedangkan yang dikhawatirkan adalah kriteria harta dan anak yang justru melalaikan dari mengingat Allah swt seperti yang Allah tegaskan dalam salah satu firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Dalam konteks ini, Nabi Muhammad sendiri pernah mendoakan harta dan anak yang banyak kepada sahabat Anas bin Malik ra, “Ya Allah perbanyaklah untuknya harta dan anak, dan berkahilah setiap apa yang Engkau anugerahkan kepadanya”.

Demikian keseimbangan yang diajarkan oleh Allah swt dalam menyikapi fitnah harta dan anak yang menduduki posisi tertinggi dari titik lemah manusia. Harta dan anak memiliki potensi yang sama dalam menghantarkan kepada kebaikan atau menjerumuskan seseorang kepada dosa dan kemaksiatan. Sudah sepantasnya peringatan Allah dalam konteks fitnah harta dan anak senantiasa yang sering kita ingat karena hanya peringatan Allah yang mencerminkan kasih sayang-Nya yang layak untuk diingat, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim:6).

Friday, 2 July 2021

REZEKI ITU ALLAH PUNYA!


Rezeki daripada Allah S.W.T terbahagi kepada dua iaitu rezeki yang boleh dilihat, ditujukan kepada jasad kepada manusia. Sementara rezeki yang tidak boleh dilihat dengan mata kasar adalah keperluan rohani manusia. Meskipun manusia diberi tubuh badan dan anggota sempurna, namun kesemuanya tidak akan dapat berfungsi sekiranya Allah S.W.T tidak memberikan suatu zat yang tidak boleh dilihat iaitu roh. Justeru, roh juga memerlukan rezeki yang tersendiri. Ia tidak boleh dilihat dengan mata kasar.


Sebagaimana tubuh yang lahir memerlukan rezeki, maka roh juga menginginkan rezeki bagi meneruskan fungsinya. Antara rezeki yang membahagiakan roh iaitu iman, taat, ibadat dan semuanya direzekikan oleh Allah S.W.T melalui wahyu yang disampaikan kepada rasulNya untuk diajarkan kepada seluruh umat manusia. Bagi mereka yang memberikan perhatian terhadap kesihatan roh, mereka akan memberikan makanan melalui iman, taat, ibadat dan seterusnya. Mereka tergolong dalam golongan terhadap anugerah Allah S.W.T. Merekalah sebenarnya manusia yang beriman. Sebaliknya orang yang tidak memperdulikan makanan roh, sudah tentu rohnya akan kurus dan mati sebelum jasad mereka menemui ajal.

Apa yang boleh dijadikan teladan oleh orang-orang yang beriman daripada sifat Allah Ar-Razzak. Antaranya mereka mestilah berusaha mendapatkan rezeki yang disediakan oleh Allah SWT, sama ada rezeki bersifat kebendaan atau pun rezeki untuk keperluan dan kesihatan rohani. Kemudian diedarkan kepada pihak lain sama ada dalam bentuk sedekah, merawat orang yang sakit, mengajar orang yang jahil, menasihati orang yang lalai, atau pun melalui urusan jual beli dan juga memberi hutang kepada mereka berhajat. Semua itu bererti mengagihkan rezeki kepada orang lain dalam pelbagai bentuk dan cara.

Bentuk-bentuk Rezeki

Ramai mengatakan rezeki adalah kekayaan material semata-mata. Harta yang melimpah ruah, wang ringgit berkepuk-kepuk, ternakan subur membiak dan sebagainya sering disinonimkan dengan makna rezeki. Sedangkan tafsiran sebegitu adalah kurang tepat mengikut konsep Islam.

Hakikatnya, rezeki menurut tafsiran dan pertimbangan agama Islam lebih meluas aspeknya berbanding pemahaman kebanyakan manusia hari ini. Rezeki mengikut Islam merangkumi segala kurniaan Allah SWT kepada hambaNya, sama ada yang berbentuk material mahu pun bukan material.

Dalam Islam, sinar matahari merupakan rezeki, roh yang bersatu dengan jasad adalah rezeki, jiran yang baik adalah rezeki, isteri solehah adalah rezeki, kemampuan menunaikan ibadat adalah rezeki dan banyaknya kemudahan serta keselesaan hidup dibumi ini adalah rezeki.

Dalam memperkatakan hubungan rezeki dengan kehidupan manusia, seseorang hamba dilarang melakukan maksiat. Ini kerana, maksiat merupakan penghalang utama untuk mendapat rezeki.

“Sesungguhnya diharamkan rezeki seseorang lelaki itu dengan dosa yang dilakukannya”. HR Ibni Hibban: 873

Ulama berselisih pendapat apabila memperkatakan tentang maksud hadis ini. Apakah rezeki yang dimaksudkan Nabi SAW itu adalah rezeki berbentuk material atau bagaimana?

Menurut satu ulasan, terdapat maksud ‘diharamkan rezeki’ merujuk kepada sekatan yang Allah SWT berikan terhadap rezeki yang berbentuk non-material. Contohnya Allah SWT menarik kebahagiaan hidup, kaya tanpa ketenangan dan banyak lagi.

Apa Yang Maha Pemberi Rezeki Mahukan?

Apa yang Allah SWT iaitu Tuhan yang memberi rezeki mahukan dari manusia adalah seperti berikut:

1. Allah SWT melarang menjamah makanan haram

Islam melarang sama sekali manusia itu makan makanan yang haram. Ini kerana, sikap tidak peduli tentang halal haram makanan kan member kesan buruk kepada kehidupan manusia. Ini termasuklah dari sudut kesihatan fizikal, mahupun kerohanian. Dengan memakan makanan haram, nisa mengakibatkan doa tidak dimakbulkan oleh Allah SWT.

Sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya Allah SWT itu baik, dan tidak akan menerima melainkan perkara yang baik. Sesungguhnya Allah SWT menyuruh orang beriman melakukan perkara yang Allah SWT suruh para rasul lakukan. Firman Allah SWT; Wahai Rasul, makanlah perkara yang baik dan beramal dengan amalan soleh, sesungguhnya aku mengetahui dengan apa yang kamu lakukan dan juga firman Allah SWT; Wahai Orang-orang yang beriman, makanlah perkara yang baik dari apa yang kami rezekikan kepada kamu.” HRMuslim: 1638

2. Berusaha

Allah SWT menuntut agar manusia berusaha untuk mendapatkan harta yang halal. Allah SWT tidak akan memberikan sesuatu rezeki tanpa adanya usaha daripada mereka yang mengharapkan rezeki itu. Ibarat pepatah ‘yang bulat tidak dating bergolek, yang pipih tidak datang melayan’. Untuk mendapatkan sesuatu rezeki, ia datang dari hasil usaha manusia.

Firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah sesuatu kaum, hinggalah kaum itu mengubah diri mereka sendiri.” Surah ar-Ra’d:11

Dalam berusaha mendapatkan rezeki, janganlah lalai daripada mengingati Allah SWT. Itu yang paling penting. Itu yang perlu diutamakan. Mencari rezeki adalah perkara wajib, jika ia menyebabkan seseorang itu lalai daripada mengingati Allah SWT, maka itu menjadikan haram.

Firman Allah SWT:

“Dihiasi bagi mereka yang kafir itu kehidupan dunia”. Surah alBaqarah:212

Reda Dengan Rezeki

Sebarang pemberian Allah SWT hendaklah dipenuhi dengan rasa kesyukuran dan keredaan terhadap Tuhan Yang Maha Memberi Rezeki. Manusia reda apabila rezeki yang didapati berbentuk material. Apatah lagi jika dia mendapatkan harta dalam jumlah yang banyak. Namun, amat sukar untuk mereka bersyukur dan reda.

Apa guna jika mempunyai harta yang banyak, tetapi hidup diselubungi kesusahan. Apa gunanya kaya, jika hidup dipenuhi kesengsaraan dan kerosakan akhlak ahli keluarga, anak yang derhaka, isteri atau suami yang nusyuz dan seumpamanya. Tiada erti kekayaan material lantaran ia tidak mampu menjadi medium untuk kita membina kehidupan yang harmoni dan sejahtera. Lebih malang, apabila dengan rezeki tersebut kita tidak mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan diri dan keluarga kepada Allah SWT.

Justeru, Islam meletakkan sesuatu asas yang penting dalam mencari rezeki, iaitu hendaklah meletakkan perasaan inginkan keberkatan disebalik rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT.

Keberkatan ditafsirkan sebagai zat bagi makanan. Ada sebilangan manusia mempunyai badan yang gempal, tetapi mukanya pucat. Apabila ditanya, mengapa wajahnya pucat sedangkan dari fizikalnya terbuka mempunyai makanan yang cukup. Jawabnya, makanan yang dimakan tidak mempunyai zat.

Keadaan yang sama juga bagi mereka yang mempunyai harta yang banyak, tetapi tidak mempunyai keberkatan Allah SWT di sebalik kurniaan harta tersebut. Ini menyebabkan kekayaan yang melimpah ruah, tetapi tidak mampu memberikan kebahagiaan hidup, malah dipenuhi dengan kesengsaraan.

Persoalannya, bagaimana hendak mendapatkan keberkatan tersebut? Reda dengan pemberian Alah SWT adalah cara untuk mendapat keberkatan rezeki.

REDA bermaksud bercita-cita untuk mencapai yang lebih utama dengan kepuasan hati pada kenyataan diatas.

Orang yang reda adalah orang yang mempunyai perasaan berpuas hati dengan kondisinya setelah diusahakan semampu boleh. Reda tanpa usaha, jauh daripada reda yang berkonsepkan Islam.

Terdapat manusia yang tidak pernah reda dengan pemberian Allah SWT. Perkara ini diakui sendiri oleh Nabi SAW.

Memetik isi buku daripada Negara tetangga yang berjudul Dengan NamaMu Aku Hidup halaman 181 menyebut bahawa…”Reda adalah pintu yang besar disisi Allah SWT. Ia adalah tempat istirehat orang-orang yang beramal soleh dan ia adalah syurga dunia.” Demikian ungkapan Imam Ibnu alQayyim alJauziyyah.

Tanda-tanda Hati Reda

Ulama tasawuf ada menyebut bahawa hati yang reda mempunyai tiga tanda iaitu;

a) Tidak menggunakan peluang yang ada dengan sebebas-bebasnya melainkan beristikharah terlebih dahulu.

b) Tidak merasa azab dan penderitaan terhadap sesuatu ketetapan dari Allah SWT waima dibentangkan dengan kesusahan

c) Perasaan cinta terhadap Allah SWT tetap berkekalan walau ketetapan itu amat mencabar

Golongan Yang Reda

Nabi SAW pernah ditimpa dengan ujian yang pelbagai. Walaupun baginda adalah kekasih Allah SWT, tetapi ujian Allah SWT tetap datang bertubi-tubi menguji baginda. Antara ujian yang didatangkan kepada baginda adalah kematian puteranya yang bernama Ibrahim.

Saat dikurniakan putera kecil itu, Rasululah SAW amat gembira. Kegembiraan itu diterjemahkan apabila Rasulullah SAW sentiasa mengendong puteranya ke rumah para sahabat untuk diperkenalkan kepada mereka.

Ketika Ibrahim mencecahkan usia dua tahun, Allah SWT telah mengambil roh anak kesayangannya itu. Rasulullah SAW menangis dengan berita kewafatan anaknya. Sambil menangis Rasulullah SAW berkata:

“Sesungguhnya air mata mengalir dan hati bersedih. Aku tidak mampu mengungkapkan apa-apa melainkan apa yang Tuhanku reda sahaja. Dan sesungguhnya aku amat bersedih dengan pemergianmu wahai Ibrahim.” HR Buhkari:1220

Begitu juga keadaan yang berlaku kepada seorang tokoh ibadat yang bernama Fudhail bin Iyadh yang kematian anak lelakinya. Beliau adalah manusia yang jarang tersenyum, disebabkan sentiasa runsing untuk berhadapan dengan kematian.

Pun begitu, pada saat kematian anaknya, dia telah tersenyum, menyebabkan orang tertanya-tanya disebalik senyumannya itu.

Apabila ditanya dia mampu menjawab:

“Sesuatu yang dicintai Allah SWT, sudah pasti aku juga mencintainya. Hati kecilku mahu menangis, teapi kupaksakan diriku tersenyum agar aku tergolong dalam kalangan orang yang reda dengan ketetapan Allah.”

Apa yang pasti, segala musibah yang menimpa hendaklah disambut dengan perasaan reda kepada Allah SWT. Sesuatu musibah yang tidak didepani dengan keredaan, boleh menjerumuskan manusia kepada kekufuran terhadap Allah. Alangkah malang seandainya terjadi kepada kita. Nauzubillah. Jika kita reda, kita diberikan ganjaran pahala yang besar.

Firman Allah SWT:

“Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (iaitu) orang-rang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Surah al-Baqarah: 155-157)

Demikian balasan pahala yang amat besar telah dijanjikan oleh Allah SWT kepada mereka yang reda dengan ketentuanNya. Apakah kita mampu berusaha kea rah itu atau tidak? Semoga kita mampu menjadikan hati kita reda dengan Allah SWT.

Badwi Yang Menyakini Rezeki Allah

Badwi adalah satu kaum dalam istilah Melayu meruju kepada orang asli. Jursteru dalam pengertian mudah, kaum Badwi ialah orang asli Arab. Orang Badwi adalah orang yang tidak mempunyai pendidikan dan tidak bertamadun. Pada zaman Rasulullah SAW, orang Badwi sentiasa dirujuk sebagai kaum yang mundur, ketinggalan dan dikaitkan dengan pelbagai tindakan yang tidak bertamadun.

Lantaran itu, jika kita merujuk hadis, banyak kisah-kisah telah menggambarkan beberapa tindakan orang Badwi yang tidak beradab. Seperti kencing di dalam masjid atau menjerit ketika memanggil nama Rasulullah SAW yang sedang berkhutbah dan banyak lagi.

Pernah diceritakan bahawa suatu hari, seorang Badwi telah mendengar satu firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan dilangit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” Surah az-Zariyat: 22

Mendengar sahaja ayat ini, Bdwi tersebut terus berkata:

“Bernalah apa yang telah Allah ungkapkan itu.”

Beberapa bulan kemudian, turun sambungan ayat yang berbunyi:

“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” Surah az-Zariyat:23

Mendengar sambungan ayat tersebut, sambil menangis Badwi itu berkata:

“Apakah kalian tidak mempercayai akan kebenaran ayat yang sebelumnya. Sehinggakan Allah SWT terpaksa bersumpah? Padahal, ketika aku mendengar ayat yang pertamanya telah menyebabkan hatiku bertambah yakin tanpa sebarang syak lagi.”

Nah! Apakah maksud sebenar yang ingin Allah SWT tunjukkan kepada manusia melalui perlakuan Badwi ini? Apakah iktibar yang boleh ita kutip andai kita merenungi kisah ini?. Apakah ia hanya sekadar diriwayatkan bagi mengisi ruang keperlbagaian cerita kisah manusia zaman lampau tanpa ada sedikit pun hikmahnya?.

Sebenarnya, jika diperhatikan kepada kisah ini dengan mata fikir yang matang, pasti kita akan dapat menyinkap apa yang tersirat di sebaliknya. Asalkan akal fikiran kita mahu berfikir dan sentiasa bersedia menerima iktibar, pasti amat besar faedah yang dapat kita kutip.

Sejujurnya, ia menghantar pesan yang amat bermakna buat kita sebagai manusia. Betapa tingginya darjat manusia itu apabila mereka menumpahkan seluruh keyakinan tehadap Allah SWT melebih daripada segala-galanya. Itulah yang sebenar-benarnya.

Segala keyakinan ini tidak akan bias berlaku, melainkan manusia itu mempunyai hati yang bersih, jernih dan suci. Dengan kebersihan hati, telah menjadikan manusia menjadi muttaqin yang dijanjikan syrga oleh Allah SWT, waima dia dari kalangan badwi.

Sekalipun manusia itu dipandang rendah dikalangan manusia, ia bukan bermakna kedudukannya renah disisi Allah SWT. Inilah hakikat yang dapat kita pelajri daripada kisah ini. Keturunan dan kaum tidak pernah membatasi seseorang itu untuk mencapai kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT. Biarpun dipandang hina oleh manusia lain, ia tidak bermakna hina di sisi Allah SWT.

Sewajibnya kita yakin bahawa kemuliaan seseorang di mata manusia tidak pernah menjanjikan kemuliaan di Allah SWT. Kehebatan seseorang pada neraca perhitungan manusia tidak pernah menjanjikan kehebatan pada neraca perhitungan Allah SWT.

Kedudukanm kehebatan dan kemuliaan di sisi Allah SWT itu bergantung kepada keyakinan, keimanan dan ketaqwaan seseorang itu kepada Allah SWT. Seandainya dapat kita tumpahkan seluruhnya kepada Allah SWT, maka darjat kedudukan Allah SWT amat tinggi.

Sesungguhnya kemuliaan pada mata sesame manusia itu adalah sesuatu yang fana. Bahkan, dengan sedikit kesilapan sahaja ia akan melenyapkan segala pujiaan yang selama ini mereka berikan kepada kita. Malah, kemuliaan indera mata manusia tidak mampu menjamin kita untuk meraih keredaan Allah SWT. Sebaliknya, kemuliaan di sisi Allah SWT yang akan kekal dan menjanjikan kesejahteraan di hari akhirat kelak. Kemuliaan pada neraca perhitungan Allah SWT sebenarnya yang lebih agung. Kemuliaan mengikut perhitungan Allah SWT kelak yang akan membantu kita meraih keredaan Allah SWT.

Justeru, kemuliaan manakah yang ingin kita buru? Kemuliaan di mata atau perhitungan Allah SWT?

SELAMAT MEMBACA!

Thursday, 1 July 2021

BERCINTA LAMA, BUANG MASA






Find a man who truly loves you. Tidak membazir masa. Fokus pasangan yang benar-benar ingin berkahwin.

Kalau berkenan dengan seseorang setialah dan cepat berkahwin. Jangan buang masa bercinta dan paling malang berakhir hubungan tanpa tujuan/arah. Kalau tidak ada niat untuk berkahwin, tidak perlu sibuk bercinta hanya sekadar rasa-rasa sunyi.

Hanya menjalinkan cinta sekadar suka-suka, mengisi ruang hati yang sunyi dan hilang ntah kemana. Tiada usaha dan tiada perancangan dan sekadar bercakap "kalau ada jodoh, adalah". Itu tanda seorang yang bermain-main dengan perasaan orang.

Kesian diri, buang duit, buang masa, buat dosa, bertambah kecewa. Bukan mudah untuk merawat hati yang terluka. Belum dapat bersungguh-sungguh, setelah dapat dingin dan hilang.