Friday, 3 September 2021

DISTRIBUTIVE LEADERSHIP




The Expansion of Leadership roles in schools, beyond those in formal leadership or administrative roles.

Put leadership practice at Centre stage as opposed to being with the principal (Spillance).
Allows others to assume leadership either by design or default.

Creates a learning culture (West Burnham), Embedding a shares culture (Busher; Sergiovanni)

Distributed leadership (DL) is defined as the role of leadership is distributed from the formal leader (principal) to school stake holders (administrators, teachers and parents).

Distributed is NOT delegating leadership. DL focuses on collaboration, shared purpose, responsibility, and recognition of leadership irrespective of role and position.

Distributed leadership is the sharing of leadership between two or more individuals. Distributed leadership also primarily concerned with mobilising leadership at all levels in the organisation not just relying on leadership from the top.

Principal needs to perform peer reviews all the time. They teach each other to work and hold each other accountable. Principal need to simply place the right teachers in the right jobs.

The Characteristic of the Principal in Distributed Leadership

Empowerment School administrators cannot be everywhere at one time.

Principal distribute the leadership power between two administrators, while other schools involve teachers and parents, creating a group where there is no central leader in charge.
Right person for the right job

Promote people ready to take responsibility, ready to exercise micro-leaderships that guide, motivate and induce changes on projects and innovations
Distributing the leadership allows administrators to focus on a few areas and really make an impact.

They do a better job in a few areas than if they were over numerous activities, administrative duties, and student and teacher responsibilities.

In return, administrators tend to find their jobs more fulfilling and feel like they are actually making a difference

Three key principles to distributed leadership – autonomy, capacity and accountability to leadership

Difference of DL to other leadership

-Increase in leadership as everyone is a leader
-Leadership practice is a product of interaction between leaders, subordinates and situation. 

Justification of DL practice in schools;

Increase in leadership work load warrant ‘sole’ leader to team leadership involving teachers, students and parents.

Increase in leadership work and pressure DL leads to leaders with multiple skills and flexibility.

DL is empirically related to organizational improvement.

DIMENSIONS OF DISTRIBUTED LEADERSHIP

Vision, mission and objective, School Culture, Shared Responsibility, Leadership Practice (Distributed Leadership Readiness Scale (Elmore, 2000))

Vision, Mission and Objective
Principals work with teachers a shared vision, mission and objective for school that serves to drive school. Vision, mission and objective is central to professional learning community. Leadership teams work for the shared vision, mission and objective. Shared vision, mission and objective improves teacher’s motivation and commitment.

School Culture
Encourage positive school learning culture. Encourage school culture that support teacher and student growth. There is team work, shared decision making, involvement in professional and leadership development among teachers. Delegation of power to teachers for policy making, curriculum, training and financial management by developing a conducive school culture through high commitment.

Shared responsibility
Leadership activities being shared among many in school: formal and non formal leaders (teachers, students and parents). Shared leadership through professional development in which individual learn and developed and become effective (to pupils learning). Increases individual capacities collectively to successful and effective in discharging responsibilities.

Leadership practice
DL- a product of interaction between leaders, subordinates and situation. Leadership practice explains how school leaders define and involves others interaction in leadership. Provides knowledge and guide for action. Practice becomes a school routine.

What is Distributive & Empowering Leadership?
The “sharing” of leadership with others, or sharing the “power of influence” which comes with leadership. Many different words are often used to describe a similar concept: shared leadership, collaborative leadership, empowering leadership. Distributive leadership is not necessarily the “act” of distributing power, but the mindset (or perspective) a given leader takes about how to operate within a given organization (Spillane, 2006).

Research on Distributive & Empowering Leadership Reveals…

Research is becoming very clear, that leadership and the appropriate “sharing ” or distributing of power associated with leadership makes a difference (Leithwood, Mascall, & Straus, 2009; Marzano & Waters, 2009; Reeves, 2006).

Leadership acts as a “driver ” in building a school ’s academic capacity, and research has found that a more team-oriented and collaborative approach to school leadership is directly linked with improved teaching and learning (Hallinger & Heck, 2010).
However, it important to note that shared leadership is only “indirectly” related to student achievement.


QIAMULLAIL PENCETUS SEMANGAT

Image result for nur fazura
Menjelas bagaimana cara bagi mudahkan seseorang bangun malam untuk qiamullail. Sesetengah daripada sebab sukar bangun tidur kerana banyak makan minum, perut kenyang menyebabkan tidur berlebihan. Timbul pertanyaan di kalangan orang awam bahawa mereka perlu makan untuk bekalan tenaga selaras dengan kerjanya yang berat , justeru sukar baginya makan hanya sedikit.
 Apa tang perlu disedari ialah sukar untuk cari insan yang lebih kuat bekerja daripada Muhammad SAW beliau adalah sebaik contoh teladan seperti yang ditegaskan oleh firman Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi mu (iaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan ) hari kiamat dan banyak menyebut Allah” (Surah Al-Ahzab ayat 21).
Nabi SAW satu-satunya peribadi yang wajib menjadi ikutan, suri teladan kepada seluruh umat manusia, Nabi SAW adalah seorang yang bersifat siddik, amanah, tabligh dan fatanah. Lantaran saifat-sifat tersebut maka setiap yang disampaikan kepada umat manusia adalah perkara yang telah dilakukannya lebih dahulu. Nabi SAW tidak berkata perkara yang tidak dilakukannya, justeru Allah SWT amat murka perkara tersebut sebagaimana firmanya yang bermaksud: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa mengatakan perkara yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahawa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Surah Ash-Shaf ayat 2 dan 3)
Justeru Nabi SAW bersabda berhubung kaedah makan yang dituntut oleh Islam sebagaimana sabdanya yang bermaksud:”Kami kaum yang makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang” Para ulama dan ahli perubatan Islam menyarankan agar menjadualkan bagi program ma’adah dengan membahagikan kepada tiga supaya kesihatan terkawal dan tenaga diperoleh daripada sajian. Untuk keperluan beribadah dan bekerja iaitu satu bahagian ruang ma’adah untuk makanan, sebahagian untuk minuman dan sebahagian lagi bagi ruang udara untuk bernafas.
Ambil peluang sedikit masa untuk tidur ‘qailullah’ pada siang hari (setelah solat zuhur) dengan tujuan merehatkan tubuh badan bagi memperoleh tenaga untuk bangun malam hari. Juga untuk memudahkan bangun malam melakukan qiamullail dengan demikian dapat mengurangkan tidur pada waktu malam.
 Seseorang itu harus mengetahui secara mendalam fadilat qiamullail melalui ayat-ayat al-Quran dan sabda Nabi SAW seperti yang dinyatakan di atas tadi. Hingga menebal rasa rindu dan harapan tinggi untuk mendapatkan pahala qiamullail itu berdasarkan dalil al-Quran dan sabda Nabi SAW. Hanya dengan itu seseorang sanggup bangun malam untuk dapat peluang yang ditawarkan oleh Allah SWT. Dalil-dalil tersebut menambah rasa rindu untuk mendapat syurga Allah SWT serta darjat yang tinggi oleh Allah SWT serta darjat yang tinggi dalam syurga.
Ayat yang dibaca itu ialah ayat yang dibaca oleh para sahabat seperti Abu Bakar, Umar al-Khattab dan yang lain. Jika ayat tersebut boleh menggerakkan jiwa ribuan para sahabat dapat reda Allah SWT ke satu haluan menuju ke syurga, apakah sebabnya maka jiwa manusia selepas zaman sahabat dan tabi’in sukar digerakkan, menuju keredaan Allah SWT. Sebagaimana para sahabat mendapat pujiannya.
Jawabnya kemungkinan langsung tidak baca al-Quran atau baca al-Quran tetapi tersalah haluannya. Lazimnya baca al-Quran ketika ada kematian, sedangkan semasa hidupnya tidak hirau langsung fungsi al-Quran. Atau sekadar baca sebagai wirid saja, dalam keadaan tidak mengetahui maksud dan tujuannya. Bacalah al-Quran sebagaimana para sahabat membaca dan memahaminya.
Adapun perkara yang jadi pencetus semangat untuk qiamullail dan paling mulia ialah al-Hubbu Lillah iaitu kasih dan cinta kepada Allah SWT serta iman yang mendalam dan meyakini wahyunya. Tidak baca walau sepatah untuk bermunajat kepada Tuhannya. Allah SWT pula sentiasa memerhati serta tahu lintas dan gerak di hati insan, mereka yakin segala yang terlintas di hatinya itu daripada Allah SWT adalah cetusan jiwa insan berserta Nya.
Oleh itu apabila mereka kasih dan cinta kepada Allah SWT maka pastilah menyukai situasi berkhalwat seorangan untuk bersamanya. Rasa seronok dan lazatnya bermunajat dengan Allah SWT itu memerlukan masa yang panjang dalam dakap qiamnya sepenuh khusyuk. Keyakinan di hati amat mendalam ialah semasa qiam membaca ‘Kalam Allah’ iaiatu al-Quran al-Karim, Dia menurunkan wahyunya sebagai cara untuk bercakap dengan hambanya (insan).
Apabila manusia membaca al-Quran bererti mereka meniru apa yang Allah SWT firmankan. Umpama anak-anak meniru apa yang ibu bapanya katakan. Ibu bapanya terasa sangat gembira dengan perkembangan cerdas anaknya cepat meniru kerana sebelumnya memang si anak tidak tahu suatu apa pun. Demikian juga Tuhan amat gembira apabila manusia boleh menyebut satu persatu seperti apa yang Allah SWT nyatakan melalui wahyunya dalam al-Quran.

BERGAUL : MANA PILIHAN TAWADUK ATAU TABARUK?
















Sebahagian daripada dalil membuktikan kebaikan bergaul dalam masyarakat berbanding uzlah ialah : berpeluang dapat banyak pahala daripada pelbagai punca, antaranya ialah apabila seseorang dapat hadiri urusan jenazah dan melawat orang sakit.

Selain itu, ia dapat melaksanakan solat berjemaah,program teragung Islam dan masyrakatnya. Sesungguhnya tiada rukhsoh (kelonggaran) di sisi agama untuk kebaikan solat fardhu berjemaah. Kecuali berlaku sesuatu bencana dan trajedi yang nyata seperti bencana besar dan kegawatan yang boleh mengancam nyawa, atau diri ditimpa petaka sehingga hilang upaya. 

Dalam situasi demikian jika gagal hadir solat jemaah, Tuhan akan arahkan malaikat supaya mencatitkan pahala berjemaah untuk hambanya itu.

Orang yang tiada melaksanakan solat fardhu berjemaah tanpa uzur syarie, golongan-golongan inilah yang pernah digertak oleh Nabi s.a.w hendak dibakar rumahnya.

Jika tidak berlaku halangan yang syarie, Tuhan tahu hambaNya pasti tidak abaikan solat jemaah.

Berdasarkan kesungguhan hamba-hambaNya melaksanakan solat jemaah pada waktu lalu, memang patut indIvidu tersebut mendapat pahala solat jemaah. 

Demikian juga orang bergaul dalam masyarakat, dapat mengikut pelbagai kegiatan berbentuk sunat dan sukarela. Kehadiran dirinya ke majlis tertentu boleh mengembirakan hati pihak yang mengundang. Ia jadi punca untuk mendapat pahala dan sebaliknya berdosa apabila menyakiti hati orang lain.

Adapun masalah jadi sumber pahala kepada orang lain. Di antaranya ialah orang lain berpeluang melawat dan ucap takziah ketika dirinya ditimpa musibah, beri peluang orang lain ucap takziah di atas nikmat yang mendatanginya. Justeru itu, hendaklah timbang pahala bergaul dengan kebinasaan hasil daripada bercampur gaul. Bergaul dengan orang ramai tidak terjamin 100 peratus baik.

Ada ketikanya menguntungkan diri dan pihak lain, ada masanya boleh merugi dan membalakan diri dan orang lain. Semuanya terletak atas diri sendiri, timbang dengan saksama setelah dikemukakan hujah dan dalilnya. Sekiranya lebih banyak yang merugikan diri dunia dan akhiratnya setelah diteliti secara mendalam, kerana situasi masyarakat sudah rosak binasa, pergaulan dan akhlak penduduknya melampaui sempadan syariat.

Mereka perlu fikirkan dengan serius untuk behijrah ke tempat lain, yang akhlak anggota masyarakatnya lebih murni. Supaya pergaulannya mendatangkan manfaat kepada setiap induvidu. TImbangkan perkara tersebut mungkin situasi tersebut lebih baik kepada mengasing diri (uzlah), sebaliknya mungkin lebih memberi manfaat jika bercampur gaul dalam masyrakat.

Buatlah kajian dengan teliti untuk kebaikan mengikut keadaan, berdasarkan panduan yang telah dikemukakan. Suatu dalil dan hujah lagi iaitu semasa dalam masyarakat umum dapat mendidik diri dengan sifar tawaduk (merendah diri), menjauhi sifat menyombong diri hanya dapat dilakukan dengan orang ramai.

Sesungguhnya tawaduk ketika bercampur dalam masyarakat umum, adalah seafdal maqam (kedudukan). Sikap tawaduk yang disukai oleh Allah SWT, tawaduk itu tidak akan terlaksana jika hidup menyendiri.

Kadang kala sikap takabbur jadi penyebab seseorang seseorang mengasingkan diri (uzlah), lantaran beberapa alasan merasakan kedudukan tinggi dirinya.

Bimbang tidak dihormati dalam majlis haflah (keramaian), atau tidak diberi peluang berada di baris hadapan di kalangan orang yang dimuliakan. Penghormatan terhadap kebaikan diri tidak perlu dicari. Jika seseorang itu berilmu dan berakhlak murni, miskin sudah meninggal dunia namun masih dalam kenangan orang ramai. Ibarat emas di perut bumi lantaran ia bernilai tinggi, walau sedalam mana pun akan digali orang untuk mendapatkannya. Sebaliknya sampah sarap berlonggok di tepi jalan dipandang jijik, dipijak oang sesuai dengan nilai fizikalnya yang tidak berharga.

Ada juga manusia beruzlah supaya kekal dalam anggapan orang ramai bahawa dirinya sebagai orang zahir dan `abid. Inilah contoh uzlah bukan kerana tawaduk sebaliknya termakan bisikan syaitan dengan sikap takabbur. Antara tanda orang sombong dan takabbur itu, ialah dia sangat suka orang menziarahinya tetapi dirinya tidak berhasrat untuk menziarah rumah orang lain. Andainya merasa gembira apabila orang menziarahinya, ini menunjukkan dia beruzlah bukan kerana tawadduk seperti sangkaannya tetapi kerana terlalu menjaga dirinya supaya tertarik kepadanya.

Adakah dia beruzlah kerana tawaduk atau kerana sombong, terletak atas tanda-tanda yang ada pada dirinya. Situasi begini hanya dia yang memahaminya. Sesungguhnya kerana hatinya berusaha sungguh untuk menarik perhatian orang lain kepadanya dengan pandangan hormat. Jika demikian, nyatalah uzlah yang dilakukan bukan kerana merendah diri sebaliknya kerana keangkuhannya